dominoqq, agen bandarq, capsa poker online, bandarq, domino online Agen judi Online Poker Online Judi Bola Online VIPBET88 Agen judi Online game poker online android indonesia Agen judi Poker Situs Judi Online Terbaik Situs poker | Agen Poker | Domino QQ | Bandar Ceme Terbaik Indobet365 BANDAR POKER INDONESIA TERBAIK Poker Domino QQ BANDAR POKER INDONESIA TERBAIK Judi Bola Cara Daftar Sbobet Situs poker | Agen Poker | Domino QQ | Bandar Ceme Terbaik Agen judi Sbobet Domino 168 Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya Bandar Togel Online Agen Bola Terpercaya

Ayah Yang Membuangku

Discussion in 'Kafe Nakal' started by carrisa, Aug 23, 2016.

  1. carrisa

    carrisa Member

    Joined:
    Sep 8, 2015
    Messages:
    179
    Trophy Points:
    16
    Sedih dan sakit hati setiap kali aku mengingat apa yang terjadi pada diriku 12 tahun yang lalu.
    Perasaan terbuang, tidak dihargai, dan menjadi sampah selalu meliputi saat eristiwa itu muncul.

    Halo semua namaku adalah Jesicca, aku adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Kehidupan keluargaku sangat lebih berkecukupan. Ayahku adalah kepala bagian Penguji dan Analisi di PT Pertamina, sedangkan ibuku adalah sorang aktris ditambah lagi pemilik dari salah satu EO yang cukup terkenal di Jakarta.
    Oleh sebab itu tidaklah mengherankan, bila memang hidupku dipenuhi oleh banyak hal mewah ataupun barang terbaru dan mahal, sangat berbeda dengan kehidupan temanku lainnya di kampus.

    Oh ya, aku lupa menyebutkan tempatku kuliah. Saat ini aku kuliah di semester 4, di salah satu universitas negeri terbesar di Indonesia dan terkenal di Jakarta. Jurusan yang aku ambil sendiri adalah Desain Grafis. Bersama kedua temanku, Rully dan Ety, hidupku sangatlah menyenangkan di kampus dan pergaulan. Karena mereka berdua adalah teman terdekat dan terbaikku saat ini. Entah apakah mereka menyukai aku karena aku pintar dan cantik atau anak orang kaya, atau memang kepribadianku yang sederhana, tidak membuat aku berpikir mengenai hal itu.
    Yang penting aku bisa mempunyai teman yang bisa curhat, andalkan, dan selalu menemaniku setiap saat.

    Tapi semuanya itu mulai hancur, saat perayaan ulang tahunku yang ke 23, dimana seseorang tak ku kenal dari masa laluku datang menghampiri, dan membuka tabir rahasia satu per satu. Dia adalah ayah kandungku.
    Ya benar, aku bukanlah anak keluarga Sastroamidjoyo, aku hanyalah seorang anak kecil yang dipungut oleh ayah yang membesarkanku sekarang untuk tinggal bersama dengan kaka tiriku, Septian. Hal ini ku ketahui saat papa yang membesarkanku bercerita di kala usiaku menginjak 17 tahun.
    Sangat sakit memang mengetahui kenyataan yang ada didepan, tapi itulah hidup. Mau tidak mau kita haruslah menerimanya.

    Pesta ulang tahunku itu menjadi hambar dan tidak nyaman dengan kedatangan ayah tiriku itu. Walaupun semua tamu yang berada di pesta tersebut tidak mengetahui siapa dia, dan rahasia diriku yang berkaitan dengan orang itu. Namun tetap bagiku, dia adalah masa lalu yang harus dilupakan dan dibuang jauh-jauh. Aku ingisn sekali menyangkal, kalau bisa memutar waktu untuk memilih bahwa Pak Satroamidjoyo lah ayah kandungku secara biologis dan membesarkanku. Tapi apa boleh buat, aku tidak mempunyai kekuatan seperti itu. Ingin sekali teriak rasanya, bila melihat laki-laki tua tersebut, untuk keluar dari kehidupanku.

    Selama pesta berlansung, pria tersebut, yand dikenal dengan nama Pak Henri, mencoba untuk mendekatiku. Tapi segala daya ku kerahkan untuk menghindar, agar aku tidak mengenal dia bahkan berbicara dua mata dengan beliau. Semampu aku, selalu bercengkrama dengan kedua teman baikku itu, jalan kesana-kemari mengahmpiri teman lainnya. Hari pun semakin gelap, waktu pesta pun sudah hamper usai, tapi laki-laki itu masih tetap berdiri di dalam rumah ini.
    Ku putar otakku, mencari akal untuk mencoba terhindar dia tidak hanya selama pesta itu berlansung, kalau perlu selamanya. Betul selamanya.

    Tapi di satu sisi, ayah yang membesarkanku, dan aku hormati, menarik tanganku dan menuntuk kea rah laki-laki yang meninggalkanku 12 tahun yang lalu. Dengan muka ramah dan bijaksana, ayahku itu berkata dengan nada pelan “ dia yang membuat kamu ada di dunia ini, karena dia juga, ayah bisa memiliki dan membesarkanmu, tolong jangan seperti anak kecil. Hadapilah sebagai wanita dewasa, tentukan sikap dan keluarkan perasaanmu”

    Dari perkataan inilah membuatku lemas,tidak berdaya, dan pasrah saat beliau menuntunku. Langkah demi langkah sangat berat, bahkan dada ini terasa sesak, jantung ku juga berdebar sangat cepat. Kepalaku penuh dengan pikiran : apa yang harus kulakukan saat bertemunya, bagaimana cara ku menyapa, apa yang bisa aku jadikan untuk topic pembicaraan. Tidak mungkinkah aku bilang,hai kamu ini anakmu yang kamu buang seperti sampah 12 tahun yang lalu. Sangat tidak mungkin.
    Sampai akhirnya diriku berkata dalam hati “Oh Tuhan, hambamu ini menyerahkan diri kepada Mu, biarlah engkau yang menuntun jalanku dan memberikan kekuatan”.


    ========== TO BE CONTINUE================
     

Share This Page


Betting Online
Judi Togel Online


Texas Poker
Judi Togel Online


Togel Online Terbaik Terpaercaya Judi Bola Online
Jayabet Casino Online