Situs poker | Agen Poker | Domino QQ | Bandar Ceme Terbaik Situs poker | Agen Poker | Domino QQ | Bandar Ceme Terbaik Judi Bola Cara Daftar Sbobet

Budaya Unik Mencari Jodoh di Indramayu Jawa Barat

Discussion in 'Aneh & Unik' started by sahrony, Mar 31, 2015.

  1. sahrony

    sahrony New Member

    Joined:
    Mar 25, 2015
    Messages:
    179
    Trophy Points:
    0
    Budaya Unik Mencari Jodoh di Indramayu Jawa Barat

    TRADISI jaringan sudah berusia entah berapa ratus tahun. Sejumlah orang tua yang ditemui itu semua mengaku tidak tahu pasti awal mula "pasar jodoh" itu. Sakim yang dianggap tahu ihwal awal terjadinya perburuan jodoh. Para kakek ini hanya mendengar dari cerita-cerita ayah atau kakek mereka.


    Spoiler:

    [​IMG]


    Cerita turun-temurun yang dipercaya penduduk setempat adalah sebagai berikut. Perburuan jodoh bermula dari acara kumpul-kumpul kaum muda beberapa abad lalu -- bahkan diperkirakan sebelum masa pendudukan Belanda -- yang berlanjut hingga sekarang ini.

    Ketika itu musim kemarau sangat berat, sehingga penduduk setempat kekurangan air bersih. Seluruh sumur, mata air, dan saluran kering-kerontang. Beruntung, salah satu sumur di kawasan itu masih
    mengeluarkan air, sehingga berbondong-bondonglah penduduk setempat datang ke tempat itu sambil membawa buyung (semacam gentong kecil). Namun karena banyaknya penduduk yang butuh air di sumur -- yang
    terkenal dengan nama "sumur temenggung" -- itu, antrian bisa berlangsung terus sampai malam. "Yang antri air termasuk pula pria wanita yang masih bujang dan gadis. Sambil antri, mereka saling berkenalan dan mengobrol," kata Sakim.

    Tak heran kalau di antara yang mengantri lama-kelamaan timbul keakraban. Bahkan, tak jarang di antara mereka yang menemukan jodoh. Mungkin karena terbiasa antri dan bercengkrama pada malam hari, kebiasaan itu kemudian sulit dihilangkan. Ketika kemarau telah lewat, dan tidak ada lagi acara antri air, muda mudi itu pun berkumpul mejeng, meski tidak tiap malam. Dalam sebulan, acara jaringan biasa digelar saat bulan purnama.

    Para orangtua melihat kegiatan itu sebagai sesuatu yang positif. Paling tidak karena saling bertemu, kenal, dan ngobrol-
    ngobrol, anak perjaka dan gadis mereka ketemu jodohnya. Janda dan duda pun tidak ketinggalan turut serta, mencari jodohnya lagi. Acara itu pun akhirnya menjadi tradisi, dan penduduk setempat menyebutnya sebagai jaringan. Bagi penduduk sekitar Kandanghaur, kata itu berkonotasi menjaring jodoh.

    Padahal asal kata jaringan itu sendiri, menurut Sakim, tidak berarti menjaring, seperti halnya menjaring ikan atau burung. Nama jaringan menjadi dikenal, karena wanita yang hadir semuanya memakai kemben (kain batik yang dililitkan sebatas dada).

    Jika sang pria tertarik, dia juga akan melingkarkan kemben ke tubuh wanita pemakainya. Itu semacam isyarat bahwa sang pria tertarik, sehingga terjadilah perkenalan antara dua sejoli itu.
    "Kalau pria dan wanita tadi sudah suka sama suka, si pria akan mengantar wanita pulang. Sesampainya di rumah, si wanita kemudian menyuguhi kendi berisi air dan sebuah gelas. Itu merupakan isyarat bahwa dia menerima si pria, meski kemudian dia tidak lagi menemani pria di rumahnya," kata Sakim.

    Quote:
    Kalau sudah sampai ke tahap itu, si pria akan memberitahu
    orangtuanya bahwa dia tertarik dengan wanita pilihannya. Urusan
    selanjutnya -- seperti lamaran sampai penetapan hari pernikahan --
    dilakukan oleh orangtua pria. Pernikahan pun terjadi beberapa waktu
    berikutnya, sesuai kesepakatan dua keluarga. Begitu mudah dan
    cepatnya.

    Quote:
    ***

    Quote:
    NAMUN tidak semua pernikahan yang proses awalnya berlangsung
    singkat itu terus berlangsung kekal. Sebagian kandas, meski
    usia rumah tangga baru seumur jagung.

    Seiring perjalanan waktu, tradisi jaringan itu sendiri sedikit
    demi sedikit berubah bentuk. "Dahulu ketika saya masih muda dan
    sering ikut jaringan, dapat dibedakan antara mana yang gadis dan
    mana yang janda," kata Kasrim. Sehingga, tidak mungkin seorang
    jejaka salah "menjatuhkan hati".

    Perbedaan janda dan gadis antara lain ditandai dengan perbedaan
    warna dan bentuk pakaian. Biasanya yang janda mengenakan kain
    kebaya, sedangkan para gadis memakai baju kurung. Kalau gadis-gadis
    menggunakan baju kurung merah, maka jandanya mengenakan kebaya
    hijau.

    Tapi itu kisah lama. Sejak beberapa tahun terakhir, setelah
    aneka model baju dijajakan sampai ke kaki lima, pakaian peserta
    jaringan iku beragam. Tidak ada lagi baju kebaya, baju kurung atau
    warna seragam. Semuanya bebas. Mau pakai celana jins, rok mini, rok
    panjang, atau kaos ketat sekali pun tak ada masalah. Baik janda,
    gadis, duda, ataupun jejaka berhak tampil sesuka hati.

    Jaringan pun tidak cuma berlangsung pada malam bulan purnama.
    Ia menjadi kegiatan rutin di malam hari. Bahkan, tradisi itu
    sekarang tak ubahnya acara ngeceng kaum muda. Meski fungsinya tetap
    untuk mencari jodoh, tradisi itu mulai sedikit bergeser dari awalnya
    dahulu. Suka sama suka dan memadu cinta tanpa dilanjutkan ke jenjang
    pernikahan, sudah bukan sesuatu yang aneh lagi. Jaringan memang
    telah mulai berubah.
    Quote:
    sumber
    [​IMG]

    Salah satu tradisi dalam pesta ngarot di Desa Lelea,Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat

    Upaya masyarakat Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mempertahankan ”ngarot” adalah prestasi besar dalam pelestarian tradisi yang telah melembaga selama 354 tahun.

    Ngarot memang identik dengan hadirnya gadis-gadis belia dan pemuda-pemuda tangguh karena pesertanya adalah muda-mudi Desa Lelea. Umumnya, usia peserta sekitar 13-20 tahun, atau sudah akil balik dan masih lajang. Tapi, ada pula yang usianya lebih.

    Keluarga di Desa Lelea yang memiliki anak gadis atau laki-laki yang telah akil balik biasanya diminta secara sukarela mengikutsertakan anak-anak mereka dalam ritual ngarot. ”Muda-mudi itu dikumpulkan dan dipertemukan,” papar Daeng Sukaraja (51), warga Desa Lelea.

    Ia menambahkan, awal mula berkumpulnya kaum muda itu adalah untuk bercocok tanam bersama. ”Bergotong-royong mengolah tanah, mengairi sawah, hingga menanam padi,” tambah Daeng.

    [​IMG]
    Jatuh cinta

    Berawal dari pertemuan di tengah sawah, dilanjutkan perkenalan, pesta setelah tanam padi (ngarot) kemudian ada yang berujung pernikahan. Ibarat lintah di sawah yang turun ke kali, cinta beberapa remaja Lelea bermula dari mata lalu bersemi di hati.

    Anggapan pesta cari jodoh terbentuk juga karena dalam ngarot para gadis dan jejaka saling dihadap-hadapkan, saling memandang. Bahkan, dulu, penari ronggeng kethuk mengajak mereka berjoget agar saling kenal-yang tak jarang kemudian saling jatuh cinta.

    Metode cari jodoh ala konvensional ini tak kalah ampuhnya dengan memanfaatkan jasa kontak jodoh di media cetak atau lewat jejaring situs dunia maya.

    Yuni (35), misalnya, bercerita, dia mendapatkan jodoh saat mengikuti ngarot pada usia 15 tahun. Meski saling bertetangga, namun dia merasa cocok dengan suaminya ketika bertemu di pesta ngarot.

    ”Saya dua kali ikut ngarot. Umur 14 tahun dan 15 tahun. Tapi umur 16 tahun, saya tidak ikut lagi karena sudah menikah. Suami saya dulu juga ikutan ngarot,” ujar Yuni.

    Tak sedikit, warga Lelea yang sudah menetap di kecamatan lain membawa anak gadis atau lelakinya mengikuti ngarot. Hal ini masih diperbolehkan, asalkan orang tua remaja itu asli penduduk Lelea.

    sumber
     

Share This Page

BANDAR PIALA DUNIA | AGEN CASINO TERPERCAYA | SITUS JUDI TERBESAR Agen Bola Online


Poker Online
Judi Togel Online


Texas Poker
Judi Togel Online


Bandar Bola Judi Bola Online